Mengenal Gunung Sanggabuana yang Viral Karena Jadi Habitat Ular Naga

oleh

Karawang – Gunung Sanggabuana menjadi sorotan pasca penemuan ular naga (Xenodermus javanicus) di sana beberapa waktu lalu. Secara administratif, gunung yang membentang di empat kabupaten ini menjadi rumah bagi ratusan jenis fauna.

Direktur Eksekutif Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) Solihin Fuadi menuturkan, Pegunungan Sanggabuana merupakan dataran tinggi yang terdiri dari sekitar 51 puncak.

“Pegunungan Sanggabuana itu berada di 4 Kabupaten yaitu Karawang, Purwakarta, Cianjur, dan Bogor. Puncak Gunung Sanggabuana bisa diakses dari Kota Karawang dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam via Tegalwaru. Bisa juga diakses dari Purwakarta via Waduk Jatiluhur atau dari Bogor via Cariu,” kata Solihin, saat ditemui pada Jumat (4/11/2022).

Menurut data kajian SCF, jajaran pegunungan dengan hutan hujan tropis ini membentang sepanjang kurang lebih 27 kilometer dengan luas 43.000 hektar.

“Disana juga ada 151 titik mata atau hulu air yang berhasil didata oleh kami (SCF). Hutan Pegunungan Sanggabuana sendiri merupakan hutan produksi tetap, dan hutan produksi terbatas yang dikelola oleh Perum Perhutani,” kata dia.

Masih diceritakan Solihin, Pegunungan Sanggabuana merupakan penyuplai debit air untuk Waduk Jatiluhur dan daerah aliran sungai (DAS) Citarum yang mempunyai ketinggian mencapai 100 meter di atas permukaan laut (mdpl).

“Puncak tertingginya di ketinggian 1.291 mdpl, yang dinamakan puncak Gunung Sanggabuana, secara administratif berlokasi di desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang,” imbuhnya.

Diketahui, sebagian wilayah Gunung Sanggabuana juga dipakai sebagai daerah latihan perang oleh Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), yang berada di Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang. Daerah latihan perang ini dikelola oleh Detasemen Pemeliharaan Daerah Latihan (Denharrahlat) Kostrad.

“Pada Sabtu, 29 Oktober 2022 lalu, tim eksplorasi SCF dan Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta berhasil menemukan ular naga jawa (Xenodermus javanicus) di Curug Cikoleangkak, Pegunungan Sanggabuana,” ujar Solihin.

Sebelumnya, eksplorasi yang dilakukan SCF ini juga sudah berhasil mengidentifikasi 151 jenis burung, lima jenis primata, dan 20 jenis herpetofauna.

Pada tiap bulan Oktober dan November, kata Solihin, Pegunungan Sanggabuana juga menjadi daerah tujuan migrasi para raptor. Tiga jenis raptor migran ini adalah sikep madu asia (Pernis ptilorhynchus), alap-alap china (Accipiter soloensis), dan alap-alap nipon (Accipiter gularis).

“Pada saat migrasi, ribuan raptor akan terbang dan singgah di kawasan hutan pegunungan Sanggabuana sebelum melanjutkan terbang ke arah pulau Bali, NTB dan kembali ke negaranya di Siberia, China, dan Jepang,” imbuhnya.

“Bahkan kami berhasil merekam macan tutul jawa atau macan kumbang (Panthera pardus melas) dalam eksplorasi yang dilakukan sejak Juli 2020,” lanjutnya.

Saat ini kawasan Pegunungan Sanggabuana sedang dalam proses perubahan status kawasan menjadi Taman Nasional yang menjadi usulan dari SCF dan pada tanggal 22 September 2021.

“Usulan ini juga sudah disepakati oleh Komisi IV DPR RI dan KLHK, dengan ditandatanganinya MoU oleh Menteri KLHK dan Komisi IV DPR RI dalam Rapat Kerja di DPR beberapa waktu lalu,” pungkasnya.

 

Sumber: detikcom

No More Posts Available.

No more pages to load.